Art by Irasutoya, Created via Canva
Konten singkat saja, karena sedang agak buntu :<
Tidak bisa dipungkiri jika penggunaan AI sudah digunakan dalam berbagai hal untuk membantu kehidupan manusia. AI menjadi jalan pintas dan mempercepat penyelesaian sebuah permasalahan sederhana. Namun, jika dipikir kembali tidak seluruh solusi dapat serta merta diselesaikan dengan AI.
AI dapat digunakan sebagai alat bantu, bukan untuk menciptakan sesuatu dari nol. Anjai AI template banget gaya tulisannya. Tak dipungkiri kalau aku juga membuat gubuk ini dibantu dengan AI (seperti coding sederhana, dan beberapa teknis lain), namun untuk konten penulisan aku tetap mencari sumber referensi yang tepat, melakukan drafting sederhana, serta brainstorming dengan AI untuk bertukar pendapat sebelum postku dirilis.
Beberapa waktu lalu, linimasa media sosial sempat ramai membicarakan spanduk atau banner gambar yang 100% hasil prompt AI tanpa modifikasi sama sekali. Bukannya menarik perhatian pembeli, namun malah menjauhkan calon pembeli karena gambarnya yang sangat tidak realistis. Seperti over-saturated, bentuknya seperti lilin, hingga penggambaran visual yang bikin kita ngomong “ini apa sih anjir”.
“Ah, ini mungkin perasaan mereka saja.” Pikirku…
Hingga aku sendiri mengalami situasi ini.
Minggu lalu, aku sempat berjalan-jalan untuk mencari jajanan di pinggir jalan selepas waktu magrib. “Ah, pengen jajan. Kelilingan dulu deh, sambil liat-liat ada makanan apa aja.” Kemudian, di sepanjang jalan, aku melihat berbagai spanduk dengan model yang sama. Tulisan melengkung, font generik AI yang ngejreng, serta gambar makanan yang over-saturated. Tak jarang juga disertai dengan chibi gambar lucu generate AI.
Aku hanya ingin untuk jajan sekaligus membantu UMKM dan menggerakan ekonomi secara sederhana. Namun, melihat spanduk yang dibuat dengan hasil generate AI membuatku ilfeel. Iya, aku bisa mencoba membelinya terlebih dahulu terlepas menjudge spanduknya begitu. Tapi, tetap saja. Spanduk atau banner promosi sebagai langkah pertama apakah orang ingin membeli atau tidak.
Tidak hanya spanduk, ketika aku membuka sosial media juga tidak lepas dari fenomena AI-slop. Tak jarang, beberapa perusahaan, event organizer, hingga badan pemerintahan tidak luput dari postingan gambar generate AI slop. Bahkan ada yang sampai melakukan ad-boosting pakai konten hasil generate AI kenapa ini lewat di linimasaku. Meskipun dalam beberapa kasus hanya sebatas memberikan informasi tertentu (seperti lowongan pekerjaan, acara/event, edukasional, atau himbauan), aku sudah keburu malas untuk melihatnya, bahkan membaca informasinya hingga selesai.
Aku tidak langsung mencap penggunaan AI itu buruk. Hanya saja, untuk beberapa kasus memang ‘diharamkan’ untuk menggunakan gambar hasil generate AI, seperti produk F&B dan produk yang berhubungan dengan kesehatan.
Di sisi lain, aku tidak sepenuhnya menyalahkan UMKM yang baru memulai usaha mereka. Mereka hanya mencari uang untuk menafkahi keluarga mereka. Mungkin mereka yang awam benar-benar tidak tahu, atau saja dari pihak percetakan yang bisa saja sengaja langsung mengerjakan dan mengetik lewat prompt AI. Atau mungkin, dari pihak perusahaan/instansi yang melakukan efisiensi sehingga memilih jalan pintas untuk membuat gambar prompt AI dalam melakukan promosinya. Banyak faktor lain yang tidak diketahui di lapangan yang sesungguhnya.
Ya, terkadang hal sesimpel ini bisa membuatku jenuh atau bosan dengan hasil gambar generate AI yang template dan buruk.
Menurutku, sekarang orang-orang lebih senang dan lebih respect dengan tulisan poster sederhana di gerobak, seperti nama makanan/minuman yang diiringi dengan nama penjual atau lokasi jualan (misal: Kue Balok Kang Didin, Mie Baso Arjuna, Cireng Persib) atau spanduk pecel lele yang digambar.
Oh iya jadi lupa njir, karena ga nemu jajanan yang cocok dan menunya terlihat “itu-itu saja”, ujung-ujungnya aku pulang ke rumah dan memasak mie instan :<
Beberapa video referensi:
- Apakah AI membuat kita jadi semakin bodoh? by Fajrul Fx
- Memahami kenapa kini AI di Benci dalam 17 Menit by Kudet Tech
- Siapa Juga Yang Mau Beli? by Eno Bening
Jika memiliki pendapat dan komentar soal tulisan ini, kalian bisa sampaikan lewat
halaman kontak
atau tinggalkan jejak di
guestbook.
Kalau kalian menyukai tulisan ini, kalian bisa
trakteer aku kopi ☕
untuk memasak tulisan atau konten selanjutnya.
